Di sebuah halaman rumah , ada seikat sapu lidi yang tergeletak di dekat pintu gerbang. Warnanya yang coklat tua terlihat jorok. Sapu lidi tersebut tersusun dari puluhan bahkan ratusan lidi. Salah satu dari lidi-lidi itu bernama Mara. Mara sangat kesal karena setiap hari badannya yang kurus harus berurusan dengan sampah karena pemilik sapu tersebut memakai sapu tersebut untuk menyapu halaman yang luas dan dipenuhi daun-daun kotor setiap harinya. Belum lagi bila hari hujan, halaman akan sangat kotor dan berlumpur.
Suatu hari Mara berkata pada teman-temannya: "Aku tak suka bersama-sama dengan kalian, karena berada bersama dengan kalian hanya akan membuatku kotor". Salah satu temannya menjawab," Itu bukan salah kami, itu karena memang tugas dan fungsi kita sebagai sapu lidi". Jawaban itu diiyakan oleh teman-temannya yang lain, Mara bertambah kesal lalu bekata, "Dulu aku berasal dari pohon kelapa yang subur lho...! Seharusnya tempatku bukan di sini, aku lebih cocok menjadi hiasan di gerbang pesta pernikahan!" Salah satu teman Mara tertawa," Hei lihat...., lidi jorok ingin jadi hiasan pesta perkawinan."
Dan semua lidi pun ikut menertawakan Mara.
Mara semakin kesal.Mara mencibir sambil menyombongkan diri, "Huh, kalau pun aku harus membersihkan sampah, aku bisa sendiri, tak usah bersama-sama dengan kalian."
"Ohh ya!!!??" Teman-temannya tertawa.
Keesokan harinya anak pemilik rumah mencabut Mara dari kumpulan teman-temannya, Mara bersorak senang,"Lihat, nasibku memang lebih baik dari kalian, Kalian akan iri padaku!"
Ternyata anak pemilik rumah memakai Mara untuk belajar menyapu. Mara semakin senang karena akan ada kesempatan untuk membuktikan kata-katanya pada teman-teman.
Anak pemilik rumah mencoba menyapu menggunakan Mara, namun tak satupun sampah berhasil tersapu, Karena marah, anak kecil itu menangis lalu mematah-matahkan tubuh Mara menjadi bagian-bagian kecil.
Minggu, 02 Desember 2007
KISAH SAPU LIDI
Diposting oleh
dongeng
di
23.32
0
komentar
Rabu, 28 November 2007
KISAH MARDAN
MARDAN, KISAH DARI TAPANULI
Di sebuah pulau di Indonesia , yaitu Pulau Sumatera, tepatnya di tanah Tapanuli tinggallah seorang janda miskin bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Mardan. Mardan adalah anak malas yang kerjanya hanya bermain-main sepanjang hari tanpa pernah membantu ibunya. Jika petang tiba, Mardan baru pulang sementara sang ibu harus menggendong tumpukankayu bakar yang dicarinya di tepi hutan. Kayu itu akan dijual besok pagi di pasar, atau setidaknya ada orang yang mau menukarnya dengan sedikit beras atau ubi.
Tapi memang begitulah Mardan. Tak kurang ibunya memberi nasihat dan mencoba meminta bantuannya, tapi mungkin nasi sudah jadi bubur, Mardan terlanjur memiliki sifat buruk seperti saat itu.
Suatu hari, sepulang dari tepi hutan, ibu menemukan Mardan sedang merengek dan menangis meminta sebuah durian. Ibu berkata tentu saja akan ibu penuhi permintaannya bila sudah ada uang untuk membeli buah durian. Sayangnya Mardan kurang sabar dan terus merengek, hingga ibunda merasa iba. Akhirnya ibu berjanji akan berusaha membawakan buah durian bila nanti kayu bakarnya ada yang laku terjual. Benar saja, ibu berhasil menjual kayu bakarnya, dan berhasil membawa pulang buah durian kecil. Mardan melihat itu dan merasa senang. Terlebih lagi ibu. Padahal Semua uang hasil penjualan kayu bakar habis hanya untuk membeli durian. Jadi untuk hari itu ibu harus berpuasa dulu, karena tak ada persediaan makanan di rumah mereka.
Mardan baru saja menghabiskan duriannya, tetapi ternyata dia masih iangin makan durian lebih banyak lagi. Maka Mardan pun merengek lagi, kali ini lebih keras, sehingga ibu tak kuasa membujuk apalagi mendiamkannya. Karena ibu tak bisa memmenuhi permintaannya, Mardan marah lalu melempar sang ibu dengan kulit durian.
Ibu menangis, berlari menjauhi, Mardan, sambil meminta tolong pada tetangga karena kepalanya terluka, tiba-tiba hujan deras datang, amat deras, dan amat lama, hingga mampu membuat kampung mereka terendam air. Semua orang menyelamatkan diri mereka sendiri. Semua orang berusaha naik ke bukit. Ibu Mardan juga.
Beberapa hari kemudian, hujan reda dan air mulai surut, orang -orang yang bisa menyelamatkan diri saling mencari anggota keluarga mereka. Ibu Mardan juga mencari Mardan berharap anak satu-satunya itu selamat. Tapi sayang Mardan tidak ada di bukit. Orang-orang turun ke kampung mencari Mardan dengan memanggil-manggil namanya. Hingga tiba di suatu danau, seseorang berteriak memanggil nama Mardan, tiba-tiba danau itu bergolak dan mengeluarkan suara buih. Ternyata Mardan telah dikutuk menjadi air danau, jika ingin mendengar suaranya, kita tinggal berteriak memanggil namanya di dekat danau itu, dan Mardan akan menjawab dengan suara buihnya.TAMAT
diceritakan kembali oleh Ayudha
Di sebuah pulau di Indonesia , yaitu Pulau Sumatera, tepatnya di tanah Tapanuli tinggallah seorang janda miskin bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Mardan. Mardan adalah anak malas yang kerjanya hanya bermain-main sepanjang hari tanpa pernah membantu ibunya. Jika petang tiba, Mardan baru pulang sementara sang ibu harus menggendong tumpukankayu bakar yang dicarinya di tepi hutan. Kayu itu akan dijual besok pagi di pasar, atau setidaknya ada orang yang mau menukarnya dengan sedikit beras atau ubi.
Tapi memang begitulah Mardan. Tak kurang ibunya memberi nasihat dan mencoba meminta bantuannya, tapi mungkin nasi sudah jadi bubur, Mardan terlanjur memiliki sifat buruk seperti saat itu.
Suatu hari, sepulang dari tepi hutan, ibu menemukan Mardan sedang merengek dan menangis meminta sebuah durian. Ibu berkata tentu saja akan ibu penuhi permintaannya bila sudah ada uang untuk membeli buah durian. Sayangnya Mardan kurang sabar dan terus merengek, hingga ibunda merasa iba. Akhirnya ibu berjanji akan berusaha membawakan buah durian bila nanti kayu bakarnya ada yang laku terjual. Benar saja, ibu berhasil menjual kayu bakarnya, dan berhasil membawa pulang buah durian kecil. Mardan melihat itu dan merasa senang. Terlebih lagi ibu. Padahal Semua uang hasil penjualan kayu bakar habis hanya untuk membeli durian. Jadi untuk hari itu ibu harus berpuasa dulu, karena tak ada persediaan makanan di rumah mereka.
Mardan baru saja menghabiskan duriannya, tetapi ternyata dia masih iangin makan durian lebih banyak lagi. Maka Mardan pun merengek lagi, kali ini lebih keras, sehingga ibu tak kuasa membujuk apalagi mendiamkannya. Karena ibu tak bisa memmenuhi permintaannya, Mardan marah lalu melempar sang ibu dengan kulit durian.
Ibu menangis, berlari menjauhi, Mardan, sambil meminta tolong pada tetangga karena kepalanya terluka, tiba-tiba hujan deras datang, amat deras, dan amat lama, hingga mampu membuat kampung mereka terendam air. Semua orang menyelamatkan diri mereka sendiri. Semua orang berusaha naik ke bukit. Ibu Mardan juga.
Beberapa hari kemudian, hujan reda dan air mulai surut, orang -orang yang bisa menyelamatkan diri saling mencari anggota keluarga mereka. Ibu Mardan juga mencari Mardan berharap anak satu-satunya itu selamat. Tapi sayang Mardan tidak ada di bukit. Orang-orang turun ke kampung mencari Mardan dengan memanggil-manggil namanya. Hingga tiba di suatu danau, seseorang berteriak memanggil nama Mardan, tiba-tiba danau itu bergolak dan mengeluarkan suara buih. Ternyata Mardan telah dikutuk menjadi air danau, jika ingin mendengar suaranya, kita tinggal berteriak memanggil namanya di dekat danau itu, dan Mardan akan menjawab dengan suara buihnya.TAMAT
diceritakan kembali oleh Ayudha
Diposting oleh
dongeng
di
02.30
0
komentar
Label: Dongeng Kisah Mardan
Langganan:
Postingan (Atom)

